This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Entri Populer

Jumat, 30 November 2012

power point motivasi belajar

Rabu, 28 November 2012

menejemen sekolah "Implementasi manajemen berbasis sekolah"

Minggu, 11 November 2012

Cerpen_ Panggilah Aku Anakmu


PANGGIL AKU ANAKMU

Pagi yang cerah,di suatu hari yang tak begitu membosankan,sangat menyenangkan bagi para siswa yang sudah mulai jenuh dengan pelajaran, tapi suasana cerah itu tidak nampak dari muka seorang gadis yang bernama Delima, bukan karena hari libur, tapi karena persoalan yang tak di mengerti oleh sekelilingnya. gadis it mernang sedih, tapi tidak menangis. perasaan gundah yang menyelimuti hatinya, tergoreskan penyesalan hidup.

Tak di sadari bahunya telah di tepuk oleh sebuah tangan yang tidak lain adalah tangan Vino temannya yang selama ini dekat dengannya.....
"oh......"kejut Delima
"ngapain?"
"hem...."
"soal itu lagi?" tebak vino yang sudah merasa tau tentang masalah sahabatnya "kamu sedih?"
"nggak juga" jawabnya sambil menarik nafas panjang
"jangan bohong!"
Delima cuma noleh sedikit dengan rasa ragu
"gue tau" sahut vino lagi
"tau apa?"
Vino pun tarik nafas panjang dan akhirnya buka mulut
"sudahlah Del,gak usah loe tutupin, kita sudah jadi sahabat dari kecil, dan gue fikir hal semacam itu gak perlu loe tutupin lagi dari gue"
tiba-tiba Delima nangis, rasa simpati sekaligus tak tega, vino pun langsung mengusap air mata itu dari pipi Delima
"hey, loe ngapa nangis?!"
dengan isakan tangisannya, Delima berusaha untuk menunjukkan bahwa dia bisa tersenyum bahkan bisa ketawa gede yang pada akhirnya dapat memecahkan suasana hiru piku itu
"Delima gak usah loe paksain untuk tersenyum"
"gimana sih loe!?” bentaknya sedikit dengan nada keras sambil ngusap tangisannya “tadi loe bilang jangan nangis. Lha gue senyum kenapa loe ngomong gitu?”
"Delima,gue tau, gue ngerti dengan apa yang loe rasain”
"ha? Ngerti? nggak Vin, loe gak ngetri, loe gak tau dengan apa yang gue rasain, rasanya sakit......sakit........sakiiiiiiiit banget Vin, gue rasa gak ada artinya hidup di dunia ini." Jelasnya dengan isakan tangis mengguyur lagi.
“Vin loe tau apa yang terjadi ama keluarga gue kan? Loe pasti paham betul, ya kan? Kalau boleh ngadu, gue mau ngadu ama loe,” lanjutnya “ini” sambil nunjuk tepat dadanya sendiri “sakit banget Vin, sakiiiiiiit banget” sambil ngelus dadanya
"delima" sahut vino halus
"sejak kecil Vin, sejak kecil gue gak pernah ngerasain kasih sayang dari orang tua, bahkan itu nyokap bokap gue sendiri, gak pernah gue rasain pelukan hangat dari mereka, sampai detik ini gue haus vin, haus banget ,dan hanya nenek gue yang sudi memberikan kasih sayang buat gue, gue sedih Vin, sedih banget" tanpa ragu dijatuhkan kepalanya pada bahu tegap itu
"tenangkan fikiran kamu Del"
"enggak bisa Vin"
"Loe bs, gue yakin itu" jawab Vino dengan mantapnya "Del gue yakin dan percaya, dibalik kesedihan itu, ada mukzizat yang sangt besar, kebahagiaan yang sedang menanti kamu"
"apa itu bener?"
"percayalah"
"he'em, gue percya"
"asal loe sbar untuk menanti, mukzizat ita akan datang dengan sendirinya"
"Vino"
"iya"
"Makasih"
"sama-sam"
"Vino, apa mungkin nyokap bokap gue mau nerima gue sebagai anakny??"
"itu mungkin"
" benarkah? Kira-kira kapan?"
"ssabarlah"

delima pun tersenyum dan kemudian menyandarkan kembali kepalanya dipundak itu, pundak yang sam kayak tadi.
Seperti biasa, hari senin adalah hari dimana setiap sekolah mengadakan upacara. Termasuk SMA BINA SOSIAL. Dengan matahari yang sangat terik membuat beberapa siswa pingsan, termasuk Delima, sudah 1 jam dia tak sadarkan diri, hingga pihak sekola terpaksa memanggil keluarganya yang tidak lain adalah nenek tersayangnya. Namun sayang, saat itu nenek Delima sedang sakit sehingga ibunya yang datang.
"tante Mira?!!" sahut vino welcome
"mana anak itu?" menanyakan Delima deng geram dan ekspresi mencekam
"di dalam tante" jawabnya sambil menunjuk ke ruang UKS  "eeem permisi tante"
Mira pun hanya melotot menandakan tidak suka. Bukan karena tidak suka Vino pergi, tapi tidak suka karena dia menganggap tidak ada gunanya dia berada disekolah hanya untuk mengurus Delima.
sedangkan Vino keluar dari R.UKS, dan duduk di depan pintu mencoba nguping.
Di dalam Delima masih tertidur akibat dehidrasi. Sampai-sampai ibunya bosan menunggu anaknya untuk sadarkan diri. Hingga kesekian menit, Delima pun sadar dari pingsannya. Matanya terbelalak antara yakin dan tidak yakin, antara bahagiah di campur takut. Di lihat nyokapnya yang tampak sebal sekaligus marah, bahkan tidak menunjukkan sikap keibuan.
"mama" panggila Delima sebari bangun dari ranjang berseprai putih itu "mama....mama ngapain kesini?"
"stop panggil aku mama" geramnya
"ma...mama kok ngomongf gitu sih?" rengek delima mulai kecewa
"heh anak bodoh, aku udah bilang berapa kali sama kamu!!! Jangan panggil aku mama, kamu itu bukan anak aku, gak seharusnya kamu lahir dari rahim aku" geramnya lagi, sambil nunjuk-nunjuk kening Delima
"ma...kenapa mama ngomong gitu sama Delima? Ini di sekolahan ma....... aku takut temen-temen denger omongan mama" balasnya sebari bangun ranjang “ma. Delima kangen sama mama” lanjutnya sambil berusaha meluk tubuh setengah baya itu.
"lepskn...lepskn aq bilang..lepaskan !!" Namun tak disangka, tangan halus dan panjang itu membanting tangan kecil milik Delima. Hingga tubuh kecil itu terpelanting membentur ranjang.
"mama" rengeknya
"heh jangan pernah panggil aku mama! Karena kamu bukan anakku" ketusnya " camkan itu dasar ank bodoh" sentak ibu setengah baya kepada seorang gadis yang berusaha bangkit dari lantai keramik putih itu. Ditengah-tengah isakan air mata gadis muda itu, berkrumunlah guru-guru penghuni sekolah dan Vino sahabat terbaik Delima. Mereka terbelalak tidak habis fikir terhadap perlakuan ibu berkemeja coklat yang nampaknya menggambarkan kepribadian tegas, berkelas elit dan menunjukkan bahwa wanita ini seorang wirausaha sukses. Tidak itu saja, mata-mata itu juga mulai berfikir, apa yang terjadi di ruang UKS. Apakah yang mereka liah itu hanyalah salah faham saja atau kenyataan sebenarnya.
“Maaf, ada apa ini?” salah satu bapak berseragam sekolah, bukan lain dalah Bapak Wibowo selaku guru matematika yang mengampu kelas X1 termasuk kelas Delima.
“Apakah ibu orangtua Delima? Tanyanya lagi, berusaha memastikan
“Bukan, saya tantenya” jawab ibu itu dengan pasti. Pak Wibowo hanya mengerutkan keningnya, menatap wanita itu dan bergeser ke mata bulat milik Delima. Dilihatnya gadis itu. Terlihat sekali, matanya berbinar dan seprtinya terpukul. “em, bisa kita bicara di kantor” ulasnya kepada ibu itu.
Langkah kaki para guru itu pun membuyar, kemudian di lanjutkan dua orang wanita dan pria yang bukan lain adalah Nyonya Mira  dan Bapak Wibowo.
Vino nampak seperti tertendang angin yang tak tembus difikiran. Dengan segera dia mendekati sahabatnya itu. Sambil di elusnya punggung kecil itu.
“loe gak papa?” tanyanya memastikan

Sepulang dari sekolah,  Delima merasa tidak enak, bukan karena kejadian disekolah, tapi dia merasa ada sesuatu yang menjanggal tan terselimut dengan ketakutan yang amat. Sesampainya di rumah, didapatinya bendera berwarna kuning menancap tepat ditembok yang menjadi batas antara teras dan jalan. Seperti gendang benderang di hatinya. Kini sangat tersa degub jantungnya menyayat. Tubuhnya yang kecil itu tiba-tiba lmelemas, seakan-akan darah yang mengalir berhenti sesuai irama pada sebuah konser yang tiba-tiba terhenti. Untuk memastikan apa yang terjadi di dalam rumah. Dia pun melangkahkan kaki dengan ragu sambil berharap hal buruk tak terjadi. Di dapatinya dalam rumah, tubuh gemuk yang berbaring dengan di selimuti kain batik itu tidak asing lagi baginya. Hingga akhirnya seperti bunyi petir di siang bolong. Terciptalah tangisan histeris.
"Nenek......" sentaknya mengagetkan.  " Gak mungkin. Nenek, bangun nek, bangun,,, nek jangan tinggalkan delima, nenek gak boleh pergi gitu aja. delima mau ikut nenek, delima gak bisa hidup tanpa nenek, nek bangun" histrisnya.
Para nelayat itu pun terhentak penuh kasihan kepada Delima. Anak yang belum begitu dewasa itu harus menanggung beban yang semestinya tidak dirasakan di usianya saat ini. Mereka tahu betul apa yang dialami gadis itu disemasa hidupnya. Rasa iba tiba-tiba muncul untuk gadis itu. Tapi apa daya, mereka tidak bisa marah atau geram kepada orangtuanya. Karena itu memang masalah keluarga yag tidah bisa di usik oleh orang lain. Tiba-tiba pundaknya di angkat oleh seorang wanita yang bukan lain tetangga sebelah.
“sudahlah nak, jangan di hambat kebergian nenekmu. Relakanlah, kasihan nenekmu nanti. Beliau tidak akan  bisa tenang dialamnya nanti jika kamu begini!!!”
tingkah anak itu hanya di pandang penuh kebencian oleh ibunya. Matanya yang tajam itu seakan akan ingin menerkam anak itu. Rasa marah dan benci tetap ada untuk anak itu.
Selama masa kecil, Delima tidak hidup sendiri setelah menerima perlakuan yang tidak layak dari ibunya. Gadis itu di pungut oleh nenek yang bukan lain ibu dari Nyokapnya. Nenek itu merawat Delima seperti merawat Mira sewaktu masih kecil. Semua keperluan pribadi di tanggung sepenuhnya oleh nenek. Namun setelah delima beranjak dewasa, Neneknya mulai sakit-sakitan. Pernah Mira ingin mengambil ibunya untuk dirawat. Namun ibunya tidak mau ikut Mira. Karena dia tahu kalau dia dirawat oleh anaknya. Maka Delima tidak akan dibolehkan ikut. Sebegitu bencinya Mira terhadap anak kandungnya sendiri. Hingga akhirnya tibalah ajal menjemput.
Suasana mencekam masih seperti tadi. Tak berusaha untuk meredam. Hingga pada akhirnya tangisan itu makin menjadi ketika jasat turun dari keranda siap untuk dikubur. Para warga hanya terisak merasa iba pada gadis kecil itu. Hingga akhirnya seorang laki-laki memberanikan diri untuk memeluk tubuh kecil bertutup krudung hitam. Seorang wanita separuh baya berkacamata hitam itu hanya memandang penuh kebencian dengan bersebelahan seorang laki-laki sekitar seprantaraannya, tidak itu saja, disebelahnya juga nampak seorang laki-laki muda yang bukan lain adalah adik dari Delima. Mereka menatap iba pada sesosok gadis yang tertelungkup pada kuburan bertabur bunga-bungaan.
Setelah pemakaman selesai. Dengan segera masyarakat membubarkan diri membiarkan Delima tertelukup d kuburan neneknya.
"Vin gak ada gunanya lagi gue hidup di dunia ini" sahut Delima yang menyadari Vino di belakangnya.
"loe nih ngomong apa sih Del?" sahutnya terkesan menegaskan.
“apa gunanya gue hidup kalau nenek gak ada vin. Gue gak bisa bayangin hidup gue seterusnya.” Jelasnya meyakinkan bahwa dirinya memang tidak  punya siapa-siapa lagi.
Suasana dipemakaman pun tiba-tiba menghening. Hingga beberapa saat mereka meninggalkan pemakaman baru itu. Meski ada rasa tidak tega untuk meninggalkan alm. neneknya, tapi Delima tetap harus pulang. Karena masih ada cerita untuk hari esok, meski tanpa adanya seorang nenek.
Ditengah perjalanan Delima sempat mampir di rumah orang tuanya. Karena Vino masih ada urusan, maka tinggallah sendiri Delima. Dia ragu untuk pergi kerumah itu. Namun apa gunanya lagi ragu. Karena rasa rindu dan sedih masih menyelimutinya. Kemudian diberanikan diri untuk mengetuk pintu itu.
“ tok tok tok....”
Terdengar beberapa saat langkah kaki menghampiri pintu itu.
“ngiiiiiiiiiiiiiiiiieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeex” pintupun terbuka. Dan ternyata yang membuka adalah seorang yang sangat dia kenal. Sosok tubuh yang sangat dia rindukan.
“Papa........” sahut Delima sepontan.
“kamu ngapain disini Delima?” sahut laki-laki itu dengan penuh perhatiannya sambil mengelus kepala gadis itu, dengan perasaan gugup karena takut ketauan oleh istrinya. Tapi upaya itu tetap saja tanpa dugaan. Seorang wanita bringas itu muncul dengan membelalakkan matanya.
“hey. Kamu.......” sentaknya. Kemudian menghampiri mereka. “berani-beraninya kamu kesini. Cepat pergi!!! Rumah ini tertutup untukmu!” lanjutnya dengan gerap. Dengan srentak tanpa permisi. Pintu itu langsung ditutup.
Delima takut, dia sedih, dia sakit. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menangis dan menangis. Menangis untuk menahan ketakutannya. Menangis untuk menahan kesedihannya. Dan menangis untuk menahan kesakitan.
Hanya itu yang dia lakukan. Hanya itu yang dia rasakan. Dan hanya sabar tanpa menghiraukan kebencian yang dia lakuka. Air matanya mengalir deras disepanjang jalan. Menyapu pinggirnya jalan tanpa menghiraukan sekelilingnya. Kini dia terpuruk dalam kesedihan. Kini dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk berlindung. Kini tinggal kenangan yang dia ingat. Semasa kecil, saat dirinya terjatuh, masih ada seorang wanita yang peduli, mau menggendongnya dan mau menceritakan dongeng untuk pengantar tidurnya. Tapi kini dia harus sadar. Karena tidak ada lagi hal itu untuk dijadikan cerita. Dan tidak ada lagi dongeng yang menambah imajinasinya. Seorang nenek adalah segalanya bagi dirinya. Nenek adalah wanita tua yang selalu membelanya saat dirinya tidak bersalah. Seorang nenek adalah malaikat untuknya. Yang selalu menemani dan menyayanginya. Yang selalu memberikan apa yang belum pernah dia dapatkan. Tapi apakah dia bisa tegar untuk menghadapi hal ini?.
“ma, kamu apa-apaan sih. Kenapa kamu perlakukan Delima seperti itu? Dia baru kehilangan neneknya. Dia butuh kasih sayang dari kita” bela seorang laki-laki itu kepada istrinya.
“apa kamu bilang? Kasih sayang dari kita? Hey ingat. Dia itu bukan anak kamu” jawabnya dengan geram. Dari jawaban yang sepontan itu, tidak sengaja bayangan masalalu yang telah silam dan terkubur di beberapa tahun pun terkorek lagi. Dia masih ingat betul kejadian itu. Saat dirinya keluar dari kantor yang sepi dan singup bahkan tanpa seorang teman pun, tiba-tiba tiga orang laki-laki geram menghampirinya. Saat itu dia sangan ketakutan. Dia berlari mencari pertolongan hingga akhirnya tiga laki-laki itu berhasil menangkapnya. Dan zlep, lamunannya pun tersadarkan. Dia masih jijik dengan kejadian itu. Kejadian yang menyeramkan dan menjijikkan. “sampai kapan pun. Aku tidak akan bisa menerimanya” jelasnya lagi. Kemudian dengan segera dia meninggalkan suaminya.

Hari pun berganti. Untuk kali pertama, gadis cantik itu bangun tanpa sapaan dari seorang nenek. Tubuhnya masih malas untuk terbangun. Bukan kerena kurang tidur akibat begadangnya tadi malam. Tapi karena rasa kehilangan itu masih sangat melekat. Dia sendirian di rumah. Dia juga sendirian untuk menanggung beban.
“De....li....ma.....” panggil seoarang cowok yang sangat dia kenal
Gadis itu bukannya tidak mendengar. Tapi tubuhnya serasa berat untuk bangkit dari ranjang.
“kok gak ada sahutan sih. Masa udah berangkat?! Ah gak mungkin”
Akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka pintu. Dengan terkejut karena pintu tidak terkunci, semakin memberanikan diri untuk memasuki ruangan itu. Hingga paling mentok ke kamar. Bukan untuk maksud apa. Tapi untuk memastikan tidak terjadi apa-apa pada sahabatnya.
“Delima” sentaknya terkejut melihat sahabatnya terbaring dengan muka pucat “kamu gak kenapa-kenapa kan?
“Vino, gue gak kenapa-kenapa. Gue cuma capek aja” jelas gadis itu. Terdengar sekali suaranya sayup.
“kamu sakit del?’
“enggak kok, gue gak sakit”  balasnya lagi untuk memastikan "gue bingung vin, gue hina banget ya?" pertanyaan yang dilontarkan terdengar tidak seperti pertanyaan, tapi lebih jelasnya seperti pernyataan. Dengan menarik nafas panjang dia pun melanjutkan bicaranya, meski terlihad dirinya menahan sakitnya tangisan itu “kemaren geu sempat mampir kerumah itu”
"terus?"
"gue diusir" jelasnya, sambil berusaha tersenyum. Dengan segera dia ambil sepucuk surat dari lacinya "Vin, gue minta tolong ya. Tolong berikan surat ini untuk mereka"
Vino tau apa yang dimaksud. Surat untuk orang tuanya. Entah apa isinya. Dia hanya mengambil surat itu dari tangannya.
"apa ini?"
"berjanjilah vin, berikan surat ini untuk mereka"
"iya, tapi?"
"aku sadar diri kok. Aku gak akan pernah mendapatkan apa yang selama ini gue inginkan. Percuma. Gue udah gak kuat lagi. gue emang gak akan menyerah. Tapi gue merasa itu gak ada gunanya. Hingga detik ini." Jelas seorang gadis itu terlihat sangat lirih. Aura kesedihan itu sangat Vino rasakan. Saat ini dia amat terpukul. Dari nada dan kata-kata yang dilontarkan sangat penuh makna. Dan ketakutan pun ikut menyelimuti cowok itu.
"ngomong apa kamu ini?"
“Vin. Berjanjilah padaku. Aku adalah yang terbaik saat ini”
“apa yang kamu katakan del?”
“ayolah Vin”
“Untukku, kamu adalah yang terbaik”

Hari ini. Mereka membolos untuk sekolah. Mereka menghabiskan waktu berdua. Hari ini adalah hari pertama dirumahnya ada acara tahlilan. Tangisan itu terus menggebu-gebu. Seakan bacaan doa mengiringi mengiringi tangisannya. Para warga hanya bisa bersimpati melihat gadis itu. Mereka seakan-akan ingin memeluk gadis itu. Memang brat yang dirasakan delima. Tapi itulah suratan takdir. Maka tidak heran seorang tetangga memeluknya.
“kamu jangan terlalu larut dalam  kesedihan Nak” ulas wanita itu
Pagi itu Delima berniat untuk kerumah orangtuanya. Dipertengahan jalan, dirinya bertemu dengan sahabat yang selalu ada di manapun dia melangkah.
"Delima loe mau kemana?”
"gue mau kerumah mama"
"ngapain?" sentak Vino sedikit marah. Karena dia tau betul apa yang akan terjadi. Dia tidak bisa membiarkan delima sedih karena diusir. “gak usah, kamu masih demam” ulasnya lagi
"Vino, gue berhak pergi kesana"
"tapi, kamu nanti akan sedih Delima, gue gak tega"
“ya udah, loe gak usah mikirin gue” sentak Delima sambil beranjak
“Gue ikut”
“ngapain”
“pokoknya gue ikut, gue mau nemenin loe”
“tapi loe kan harus sekolah, loe jangan ikutan kayak gue dong”
“Delima, gue gak bisa biarin loe sendirian”
“yaudah, ayo kalau gitu”
Mereka pun beranjak dari tempat. Dengan langkah pasti delima meyakinkan diri. Dia selalu ingaat apa kata neneknya “........jangan pernah menyerah, meski banyak halangan menghadang..........”
Tidak disangka, mereka sampai juga. Dengan pasti, tangan  gadis itu mengetuk pintu didepannya. Dan ternyata yeng membuka pintu berwarna cokelat itu adalah seorang laki-laki muda sekitar seprantaraannya, kira-kira lebih muda dari pada Delima.
"Odin, kamu apa kabar?" tanya delima pada adiknya
"oh Delima..." sahut seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul karena penasaran dengan tamunya. Tapi sayang, ternyata istrinya juga ikut keluar.
"heh, siapa y!"tb2 mamaang nyuruh kamu kesini lagi!!!”
"mama, Delima kangen" sahut delima, tanpa takut dan karena bendungan kerinduan terhadap kedua orang tuanya yang sudah semakin menjadi-jadi, dia pun memeluk ibunya. Pelukan penuh kerinduan itu di tolak mentah-mentah oleh ibunya.
"apa-apaan ini,pergi kamu anak haram!" dengan geram, pelukan itu disentakkan.
"Ma, apa yang kamu lakukan itu sudah kelewatan" sahut suaminya berusaha menegur.
"Papa gak usah ikut campur." Geram wanita itu “Odin, kamu masuk kekamar” dengan segera wanita itu menyuruh anak laki-lakinya untuk masuk kekamar. Dengan segera, odin pun masuk kekamar dengan perasaan takut. Ini bukan kali pertama ibunya membentak kakaknya. Dia yang tidak tau apa-apa sangat ketakutan.
“aku tegaskan sekali lagi kepada kamu ya. Kamu jangn pernah menginjakkan kaki jelekmu itu kerumah saya. Kamu itu bukan siapa-siapa dirumah ini”
“Ma, kamu ini ngomong apa sih, Delima itu keluarga kita. Dia berhak kesini, dia itu anak kita ma. Ingat itu” bentak suaminya lagi yang sudak tidak tega dengan apa yang dilakukan oleh istrinya pada Delima.
“Apa? Anak kita? Papa lupa ya? Dia itu bukan anak darimu. Dia itu anak HARAM” dengan kencang wanita itu mengucapkan kata HARAM. Kata-kata itu seperti petir menyambar disiang bolong.
"anak haram?" ulang Delima memastikan “apa itu artinya?” tanyanya lagi untuk memastikan mungkin dia salah dengar atau apalah yang penting kata-kata anak haram itu bukan ditujukan untuknya.
“enggak Nak” sahut ayahnya berusaha menutupi, tapi wanita itu tidak mau kalah
“Diam kamu pa. Gak usah membela anak haram ini.” Sentak wanita itu “hey kamu anak haram. Kamu itu bukan dari keluarga sini. Papa yang kamu anggap Bapak kamu itu bukanlah ayahmu. Kamu mau tau siapa ayahmu? Ayah kamu adala seorang bajingan. Aku gak sudi punya anak dari orang bajingan” jelas wanita itu menyambar-nyambar. Kini tangisan Delima semakin menjadi-jadi. Dia tidak tau lagi apa yang harus dia lakuakan. Apakah dia harus mencari ayah kandungnya yang belum diketahui biodatanya. Sedangkan dia tidak tau apa yang dimaksud ibunya, bahwa ayahnya adalah seorang bajingan.
“kamu sudah tau kan anak haram? Anak bajingan?”
“tante, apa yang tante lakukan itu sudah melukai delima” ulas vino angkat bicara
“gak apa apa Ma, Pa. Delima tetap menganggap Papa sebagai ayah Delima. Yang Delima tau, orang tua delima hanyalah Mama dan Papa.” Jelas gadis itu semakin terpuruk.
“gak sudi” sahut wanita itu lagi “ asal kamu tau aja ya. Kamu itu anak yang tidak aku harapkan. Kamu itu harusnya tidak lahir dari rahim aku. Aku benci punya anak kayak kamu. Aku benci.” Samabar ibunya lagi penuh emosi dan kemurkaan.
"cukup Ma, kasihan Delima" bela suaminya
"sudah cukup yang aku terima hari ini. Terima kasih Pa, Ma. Karena kalian sudah ada untuk aku” sahut delima angkat bicara dari keheningan hatinya yang ruwet seperti benang kusut. “aku akan pergi dari sini, tapi bukan berarti Delima benci sama kalian, Delima akan tetap sayang sama kalian, Delima akan hormat dan Delima akan selalu mengharapkan kasih sayang dari kalian. Delima akan tetap rindu sama kalian. Tapi mulai saat ini delima gak akan mengusik kalian lagi. Delimka janji" sahutnya mulai pasrah. "Ma Pa, Delima sayang sama kalian, mama adalah ibu yang telah berjuang untuk melahirkan delima, Pa...Papa adalah seorang ayah yang tetap delima anggap sebagai ayah. Karena Papa lah yang Delima punya. Walaupun pada kenyataannya Delima bukan anak dari darah daging Papa. Delima pamit sama kalian. Delima janji, Delima gak akan datang lagi kesini" ulasnya pasrah. Kini dia yakin dengan apa yang diucapkan. Kebimbangan sudah memastikan. Kesedihan sudah tidak ada gunanya lagi untuk dirasakan. Karena apa yang telah dilakukan tidak ada hasil. Dia pasrah dengan keadaan ini. Dia hanya bisa menapat kedua orang tuanya tanpa bisa memeluk.
"udah, ngapain kamu masih di sini, cepat pergi anak sial!!"usir wanita itu
“Mama...” sentak suaminya. Tapi sentakan itu tak dihiraukannya.
"tenang Ma, Delima akan pergi, Delima akan pergi jauh dari kehidupan kalian. Tapi bolehkah  Delima minta untuk yang terakhir kalinya?" ulas gadis kecil itu lagi, sambil mengusap air matanya yang terjatuh menetes lewat pipi. Sedangkanorangtuanya hanya diam dengan ekspresi geram. Menandakan permintaan gadis itu ditolak. "Ma panggillah Delima sebagai anak Mama, Delima mhon Ma" pintanya sambil berusaha memegang tangan ibunya. Tapi sayang tangan kecil itu disentakkan hingga terpelenting hampir mengenai dada Vino. Cowok yang bersamanya itu hanya diam. Membiarkan Delima berusaha berbicara pada orangtuanya. Dia bukan bagian dari keluarga itu. Maka diam adalah salah satu cara, agar tidak ada cacian yang menggelegar menyambarnya.
"jangan ngimpi kamu. Pergi sana. Dasar anak sialan" sentak wanita itu untuk kesekian kalinya. Delima pun di dorongnya hngga terrjatuh. Dengan rasa kecewa dan bantuan dari sahabatnya, dia pun berusaha bangkit dan langsung berlari meninggalkan semua didepan rumah itu. Saat itulah jiwanya serasa tidak bersahabat lagi. Dirinya tidak pernah menyesali pertemuan ini. Dia hanya menyesali kenapa dirinya hadir dengan cara yang dibenci oleh ibunya. Dengan kencang gadis itu lari dan tanpa disadari, tiba-tiba sebuah truk melintas dengan kencang hingga menubruk tubuh yang tak berdaya itu. Tubuh dengan hanya mengenakan baju sederhana itu terpental sejauh tiga meter dari tempatnya berdiri. Suara itu terdengar oleh kedua orangtuanya yang berbarengan dengan menutup pintu. Vino yang membututinya dari belakan sepontan terkejut dan dengan segera dia berlari kearah tubuh yang sudah tergeletak tak sadarkan diri itu. Seperti orangtua pada umumnya. Kedua paruh baya itupun segera berlari untuk memastikan apa yang terjadi pada anaknya. Hanya dengan  hitungan detik, tempat itu sudah banyak dikerumuni warga. Hingga butuh ekstra kedua otrang itu bisa menembus kerumunan. Dilihantnya tubuh seorang gadis yang baru saja lari itu dengan histeris. Mereka tidak hanya melihat. Bahkan menyaut gadis itu dari pelukan Vino. Gadis itu sempat terlihat tersenyum manis. Namun apa daya. Gadis itu dengan segera tak sadarkan diri lagi. Sempat sebelum pingsan gadis itu mengucapkan sesuatu pada sahabatnya beserta orangtuanya. Namun kata-demi kata hanya terdengar lirih dan sempat ditak mengerti maksudnya. “.............terimakasih...........................jangan sedih........” hanya kata-kata itulah yang sempat terdengar
"Delima" kejut wanita paruh baya itu dengan tersentak tangisan menggelegar "Delimaaaa, maafkan Mama sayang" histrisnya lagi. air matanya kini tidak bisa mengembalikan suasna seperti semula, semua hanya tinggal cerita. Dengan segera suamunya mengambil mobilnya dari garasi. Dan langsung melarikan korban yang bukan lain adalah Delima.
setelah sampai di RS umum, mereka menunggu dokter keluar dari R.
"Bagaimana anak saya Dok?" tanya wanita itu setelah Dokter keluar dari ruangan
“Kita hanya bisa berdoa ada mukzizat dari yang kuasa bu. Keadaan anak anda masih memburuk. Dia harus dirawat ekstra guna untuk memulihkan keadaannya. Karena akibat benturan keras itu mengakibatkan darah anak ibu sebagian sudah membeku. Dan untungnya segera dibawa kerumah sakit.” Jelas dokter itu dengan berat
“Terus, apa yang harus saya lakukan untuk keselamatan anak saya Dok?” tanya wanita itu tanpa ragu
“lebih baik ibu segera mengurus administrasi sekarang. Dan dengan segera pihak rumahsakit akan menangani” jelasnya
“Baiklah Dok.”

Semalaman wanita separuh baya itu menunggui anaknya. Sampai-sampai tertidur di separuh ranjang. Pagi sudah tiba. Dan Delima masih saja belum sadarkan diri. Tiba-tiba datang seorang laki-laki muda dengan mengenakan seragam. Dilihatnya pemuda itu membawa sepucuk surat. Entah surat buat siapa.
“Bagaimana keadaan Delima tante?” tanya Vino menghampiri dua wanita itu
“kamu gak sekolah?” tanyanya memalingkan
“Nanti tante. Oya. Ada titipan untuk tante dari Delima” dengan segera diberikan surat itu.
Setelah memberikan sepucuk surat beramplokan warna merah dengan corak gambar hati. Vino pun mulai angkat bicara
“Tante. Kenapa tante seperti itu pada Delima?” tanyanya agak ragu. Tapi pertanyaannya tidak disahut oleh wanita separuh baya itu. “Delima sebenarnya adalah seorang gadis yang ceria. Dia sopan dan baik kepada teman-temannya. Tapi dia selalu murung memikirkan tante. Dia sangat terpukul dengan kepergian neneknya. Dia itu sebenarnya gadis yang kuat. Tapi akhir-akhir ini dia sering mengatakan pada saya kalau dia suadah jenuh dan lelah. Itu tadi surat yang dibuatnya semalaman.dia menitipkan surat bitu untuk tante”
Suasana hening pun menyelimuti. Mereka tidak saling bicara lagi. Apa yang telah Vino katakan membuat hati wanita itu tersentak. Dia hanya wanita separuh baya yang berusaha membangkitkan anaknya dengan sentuhan tangan dan kecupan didahi Delima.
Setelah Vino keluar. Wanita itu pun segera membuka surat yang dipegangnya. Kata demi kata dibaca. Dia mulai sadar ini bukanlah sebuah surat. Tapi yang tengah dibacanya itu adalah sebuah puisi. Puisi ungkapan hati anaknya. Sungguh tersentuh hati yang sempat beberapa tahun mengeras itu. Kini akhirnya luluh. Wanita separuh baya itu hanya bisa menyesali apa yang telah dia lakukan. Sedangkan anaknya masih belum sadarkan diri.
Ini adalah hari ke empat Delima dirawat. Sejauh ini belum ada tanda-tanda keadaan delima pulih. Malam ini. Entah ada apa seluruh keluarga gadis itu datang menjenguknya. Tidak itu saja, sahabat-sahabat tercintanya pun datang untuk menjenguk. Isak tangisan semakin menggebu-gebu. Ibunya yang sudah beberapa hari ini menemani, hanya bisa menangis penuh kesesalan. Tangannya tetap menggenggap tangan kecil itu. Hingga pada akhirnya, dia merasakan sentuhan dari jemari anaknya. Dengan sepontan mereka yang disitu berhenti menangis.
“Jarinya..........., jarinya bergerak” sahut Vino.
“Panggil dokter, cepat panggil” sentak wanita itu
Sedikit demi sedikit Delima membuka mata, buram memang yang dia rasakan. Hingga beberapa detik dia bisa melihat ibunya tengah menggenggap jemarinya. Tidak itu saja, ayah, adik sahabat dan teman-temannya juga menjenguknya.
“Ada apa ini” sahut Delima tertatih belum sadar apa yang terjadi padanya. Yang dia rasakan saat ini hanya sakitnya benturan diseluruh tubuh. “Ma, Pa. Kalian kenapa nangis?. Mama ada disini?!” lanjutnya.
“iya sayang” jawab ibunya. Sempat dilihatnya bibir manis itu tersenyum bahagiah. Tapi tiba-tiba sakitnya seluruh tubuh membuat ketidak berdayaan gadis itu. Baru saja sadarkan diri. Gadis itu sudah tersayup sayup. Tubuhnya memang belum pulih betul. Tapi matanya terpejamkan kembali.
“Delima” sentah ibunya yang masih menggenggam erat tangan
Dokter yang dijemput oleh salah satu temannya baru datang. Dan segera menghampiri gadis itu. Namun Dokter itu hanya bisa menggelengkan kepala dan akhirnya sebuah isyarat itu dapat dibaca oleh semua orang yang ada dalam ruangan.
Semua menangis akan kepergian gadis baik dan ceria itu . kini semua tinggal kenangn. Tidak ada lagi tawa. Tidak ada lagi gadis yang setiap hari menunggu dan terus menunggu. Bagi sahabat-sahabat yang datang kini hanya bisa merelakan kepergian Delima. Semua yang telah Delima lakukan adalah hal yang terbaik untuk mereka. Tapi  kepergian Delima menyisakan penyesalan mendalam bagi orang tuanya. Mereka menyesali prilaku yang dibuat. Mereka mendari apa yang selama ini mereka lakukan. Mencaci dan membentak gadis secantik delima. Hingga memukul gadis tak berdosa. Teringat semua yang pernah mereka lakukan terhadap anaknya. Namun kini tinggallah tangisan mengiringi kepegian anaknya. Rasanya tidak ada lagi maaf untuk mereka meskipun Delima sering mengatakan bahwa dia tidak akan pernah benci pada orangtuanya.
Kini kepergian ibunya telah disusul oleh anak yang semasa hidupnya tak pernah diberikan kasih sayang itu.
persiapan pemakaman berlangsung selama beberapa jam. Taburan bunga beserta isakan tangis mengiringi kepergian delima. Wanita paruh baya itu masih mengingat sepucuk surat yang diberikan oleh anaknya itu. Sebuah puisi yang mana mengungkapkan rasa kasih dan kerinduan yang dibendung oleh anaknya

Puisi Untuk Mama Dan Papa...........

Di luar sana aku selalu merindukanmu
Aku selalu terbayang wajahmu
Ma.......... Pa......
aku haus dengan kasih sayangmu
aku lapar dengan pelukan hangatmu
ingin ku cium tangan mu dengan rasa hormatku untuk mu
aku sayanx dan bangga dengan kalian
walaupun tak mungkin bersatu
aku yakin, dihati yang kecil itu masih ada ruang untukku
aku akan menunggu dan aku akan mencoba
aku bisa membuatmu bangga
sayangilah aku, PANGGILAH AKU SEBAGAI ANAK
peluklah aku saat tertidur nanti......

inilah sebuah puisi singkat yang ditinggalkan untuk kedua orangtuanya
Kini semua tinggal cerita, semua yang ditinggal hanya bisa sedih dam merelakan

inilah cerpen yang dapat aku buat. Mungkin belum sempurna... hehhehehe

karya : Tutik

peringatan. Cerita ini tidak diperuntunkan untuk dijiplak. karena kita harus menghargai dan mencintai karya seseorang
*cye ile*